penjaga dunia

SIAPAKAH PENJAGA DUNIA DARI KEHANCURAN – Ust. Abu Abdirrahman Al-Hajjamy, MA.

SIAPAKAH PENJAGA DUNIA DARI KEHANCURAN

Berbagai macam organisasi baik level yang berskala lokal, nasional bahkan internasional dari kelompok maupun gerakan kecil sampai negara telah banyak melakukan usaha penanggulangan bencana dan kerusakan alam. Tak sedikit dana dan waktu yang mereka keluarkan demi sampainya sosialisasi ke masyarakat luas, dalam bentuk pelatihan, pencegahan dan sebagainya.

Walau demikian bencana alam yang berupa tsunami, banjir, lonsor, badai dan lain sebagainya tetap terus saja terjadi bahkan semakin besar. Negara yang dianggap maju dan menjadi standart percontohan pun tidak luput dari bencana alam tersebut hingga merenggut nyawa yang tidak sedikit, padahal alat-alat super canggih telah mereka siapkan, namun hasilnya nihil semuanya tetap hancur berantakan seakan tidak ada usaha pencegahan apapun sebelumnya.

Kenapa itu terus saja terjadi dan malah semakin parah menimpa umat ini ?

Pertanyaan ini mungkin mewakili sebagian besar umat manusia yang bertanya-tanya, bukan hanya kaum muslimin saja dan mungkin sebagian besar belum mendapatkan jawaban yang memuaskan sesuai akal dan ilmu pengetahuan serta agama yang mereka yakini dan pahami.

Tulisan singkat ini hadir untuk memberikan jawaban yang selama ini tidak disadari dan tidak dimengerti oleh kebayakan kita.

Dalam ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam telah diterangkan segala sesuatu yang diperlukan oleh umat manusia untuk kebaikan dunia dan akhiratnya serta perkara yang dapat menyengsarakan manusia baik di dunia atau akhirat kelak, termasuklah di dalamnya masalah penting yang sedang kita bahas ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

﴿ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴾

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum : 41)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ (Telah tampak kerusakan di darat dan di laut).

Dalam bahasa Arab, kata Al-fasaad (keburukan/kerusakan) merupakan kebalikan dari Al-shalaah (kebaikan) yaitu; segala sesuatu yang tidak terkategorikan sebagai kebaikan dan dicabutnya berkah dari segala sesuatu.

Para Ulama tafsir telah banyak menjelaskan makna Al-Fasaad pada ayat di atas namun jika dicermati penjelasan beberapa mufassir hanya merupakan contoh kejadian yang tercakup dalam fasaad. Artinya, kerusakan yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah hanya peristiwa yang disebutkan itu. Sebab, sebagaimana ditegaskan Al-Imam Asy-Syaukani Rahimahumullahu Ta’ala, At-ta’riif (bentuk ma’rifah) pada kata Al-fasaad menunjukkan li al-jins (untuk menyatakan jenis). Artinya, kata tersebut mencakup semua jenis kerusakan yang ada di daratan maupun di lautan. Termasuk kerusakan dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, moral, alam, dan sebagainya.

Demikian pula kata Al-barr dan kata Al-bahr. Huruf Al-alif wa Al-lâm pada kedua kata itu memberikan makna li al-jins. sehingga menunjukkan makna semua daratan dan semua lautan. Dengan demikian, ayat ini memberikan pengertian bahwa telah tampak dengan jelas semua jenis kerusakan di seluruh muka bumi, baik di daratan maupun di lautan.

Berbagai kerusakan itu tidak terjadi tiba-tiba. Pangkal penyebabnya telah disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikutnya: بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ (disebabkan oleh perbuatan tangan manusia). Menurut ayat ini, pangkal penyebab semua kerusakan di seluruh muka bumi itu adalah ulah perbuatan manusia itu sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

﴿ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ﴾

“Musibah apa saja yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri.”(QS. Asy-Syura : 30)

﴿ مَّا يَفْعَلُ اللّٰـهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَءَامَنتُمْ وَكَانَ اللّٰـهُ شَاكِرًا عَلِيمًا ﴾

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisaa’ : 147)

Ayat 147 dari surah An-Nisaa’ ini mejelaskan bahwa syukur dan iman yang sejati menjauhkan azab dari suatu kaum tetapi sebaliknya azab (kerusakan alam) akan ditimpakan jika dua hal tersebut ada pada suatu kaum.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pada tempat yang lain,

﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ ﴾

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS. Al-An’am : 82)

Yang di maksud dengan kezhaliman di sini adalah kesyirikan sebagaimana firman Allah Ta’ala,

﴿ إِن الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ﴾

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman : 13)

Ayat ini adalah jaminan bagi orang-orang yang beriman dan tidak musyrik, bahwa mereka akan mendapatkan keamanan dan pentunjuk. Sebaliknya orang musyrik tidak akan medapatkan keamanan dan ketenanagan serta petunjuk.

Maksud dari penyampaian ayat di atas menegaskan bahwa kesyirikan merupakan sebab terbesar dari kerusakan alam kemudian disusul oleh dosa-dosa besar serta maksiat-maksiat lainnya lalu ditambah pula oleh pengerusakan dalam proses pengelolaan alam seperti illegal logging, buang sampah sembarangan dan lain sebagainya.

Dengan demikian, lalu siapakah manusia yang paling berjasa menjaga dan melestarikan alam ini ?

Sahabat Anas Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُقَالَ فِي اْلأَرْضِ: اللهُ ، اللهُ .»

“Tidak akan datang hari kiamat hingga di bumi tidak lagi di sebut : Allah, Allah.” [Shahiih Muslim, kitab Al-Limaan, bab Dzahaabul Iimaan Akhiraz Zamaan (II/ 178, Syarh An-Nawawi)]

Ibnu Katsir Rahimahumullah berkata,

“Ada dua pendapat tentang makna hadits ini, Pendapat pertama : Bahwa seseorang tidak mengingkari kemunkaran dan tidak melarang orang yang melakukan kemunkaran. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam mengibaratkannya dengan ungkapan “tidak lagi di sebut : Allah, Allah” sebagaimana dijelaskan sebelumnya dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma :

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَأْخُذَ اللهُ شَرِيطَتَهُ مِنْ أَهْلِ اْلأَرْضِ فَيَبْقَى فِيهَا عَجَاجَةٌ لاَ يَعْرِفُونَ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُونَ مُنْكَرًا.»

“Tidak akan tiba hari kiamat hingga Allah mengambil orang-orang baik dari penduduk bumi, sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang yang jelek, mereka tidak mengetahui yang baik dan tidak mengingkari yang munkar.’” [Musnad Ahmad (XI/181-182, Syarh Ahmad Syakir), dan beliau berkata, “Sanadnya shahih”.]

Pendapat kedua : Sehingga tidak lagi di sebut dan di kenal Nama Allah di muka bumi. Hal itu terjadi ketika zaman telah rusak, rasa kemanusiaan telah hancur, dan banyaknya kekufuran, kefasikan juga kemaksiatan.” [An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/186) tahqiq Dr. Thaha Zaini]

Dijelaskan dalam Ash-Shahiihain dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

« مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ »

“Di antara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan.” HR. Bukhari dan Muslim

Al-Bukhari meriwayatkan dari Syaqiq, beliau berkata, “Aku pernah bersama ‘Abdullah dan Abu Musa, keduanya berkata, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

« إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ. »

“Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan ada beberapa hari di mana kebodohan turun dan ilmu dihilangkan.’” HR. Bukhari

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

« يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ. »

“Zaman saling berdekatan, ilmu dihilangkan, berbagai fitnah bermunculan, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati), dan pembunuhan semakin banyak.” HR. Muslim

Ibnu Baththal berkata, “Semua yang terkandung dalam hadits ini termasuk tanda-tanda Kiamat yang telah kita saksikan secara jelas, ilmu telah berkurang, kebodohan telah nampak, kebakhilan dilemparkan ke dalam hati, fitnah tersebar dan banyak pembunuhan.” –Fathul Baari-.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahumullah mengomentari ungkapan itu dengan perkataannya, “Yang jelas, sesungguhnya yang beliau saksikan adalah banyak disertai adanya (tanda Kiamat) yang akan datang menyusulnya. Sementara yang dimaksud dalam hadits adalah kokohnya keadaan itu hingga tidak tersisa lagi keadaan yang sebaliknya kecuali sangat jarang, dan itulah isyarat dari ungkapan “dicabutnya ilmu”, maka tidak ada yang tersisa kecuali benar-benar kebodohan yang murni. Akan tetapi hal itu tidak menutup kemungkinan adanya para Ulama, karena mereka saat itu adalah orang yang tidak dikenal di tengah-tengah mereka.” –Fathul Baari-.

Dicabutnya ilmu terjadi dengan diwafatkannya para Ulama. Dijelaskan dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

« إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا. »

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para Ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain.’” HR. Bukhari dan Muslim

An-Nawawi Rahimahumullah berkata, “Hadits ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mencabut ilmu dalam hadits-hadits terdahulu yang mutlak bukan menghapusnya dari hati para penghafalnya, akan tetapi maknanya adalah pembawanya meninggal, dan manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemutus hukum yang memberikan hukuman dengan kebodohan mereka, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” Syarah Muslim.

Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah, ia adalah ilmu yang diwariskan dari para Nabi ‘Allaihissallam, karena sesungguhnya para Ulama adalah pewaris para Nabi, dan dengan kepergian (wafat)nya mereka, maka hilanglah ilmu, matilah Sunnah-Sunnah Nabi, muncullah berbagai macam bid’ah dan meratalah kebodohan.

Adapun ilmu dunia, maka ia terus bertambah, ia bukanlah makna yang dimaksud dalam berbagai hadits. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

« فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا. »

“Lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain.”

Kesesatan hanya terjadi ketika bodoh terhadap ilmu agama. Para ulama yang sebenarnya adalah mereka yang mengamalkan ilmu mereka, memberikan arahan kepada umat, dan menunjuki mereka jalan kebenaran dan petunjuk, karena sesungguhnya ilmu tanpa amal adalah sesuatu yang tidak bermanfaat, bahkan akan menjadi musibah bagi pemiliknya.

Dijelaskan pula dalam riwayat Al-Bukhari:

وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ.

“Dan berkurangnya pengamalan.”

Sejak zaman diturunkannya Al-Qur’an, Allah ‘Azza wa Jalla telah menyiapkan berbagai bentuk penjagaan hingga hari kiamat kelak, di saat Allah ‘Azza wa Jalla mengizinkan ayat-ayat Al-Qur’an terangkat dan tidak lagi tertulis dalam mushaf, tidak pula tersisa dalam dada, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

« يَدْرُسُ الْإِسْلَامُ كَمَا يَدْرُسُ وَشْيُ الثَّوْبِ حَتَّى لَا يُدْرَى مَا صِيَامٌ وَلَا صَلَاةٌ وَلَا نُسُكٌ وَلَا صَدَقَةٌ، وَلَيُسْرَى عَلَى كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي لَيْلَةٍ فَلَا يَبْقَى فِي الْأَرْضِ مِنْهُ آيَةٌ، وَتَبْقَى طَوَائِفُ مِنَ النَّاسِ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْعَجُوزُ يَقُولُونَ: أَدْرَكْنَا آبَاءَنَا عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَةِ؛ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَنَحْنُ نَقُولُهَا »

“Islam akan hilang sebagaimana hilangnya hiasan (bordir) pada baju, ketika itu tidak dikenal lagi puasa, shalat, haji, dan zakat. Sungguh akan diangkat Al-Qur’an di satu malam hingga tidak tersisa satu ayat pun di muka bumi. Di muka bumi masih ada sekelompok manusia tua renta, mereka berkata, ‘Kita pernah dapati nenek moyang kita berada di atas kalimat : Laa ilaa ha illa llah, kita pun mengatakannya’.” Hadits ini dikeluarkan Ibnu Majah dalam As-Sunan (2/1344—1345 no. 4049) Kitab Al-Fitan (Fitnah-Fitnah) bab “Diangkatnya Al-Qur’an dan ilmu.” Dikeluarkan pula oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/473, 545) dari Hudzaifah bin Al-Yaman. Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih menurut syarat Muslim.” Al-Bushiri berkata dalam kitabnya Mishbah Az-Zujajah (2/307), “Sanad hadits ini shahih dan rawi’-rawi’nya tsiqat.”

Dari keterangan hadits-hadits di atas jelaslah bahwa sesungguhnya manusia-manusia yang sebenarnya menjaga alam ini dari kehancuran adalah orang yang selalu mengajarkan dan menyebarkan tentang Allah, ma’rifat, perintah serta larangan-Nya (Aqidah dan ajaran Islam), mereka adalah para Nabi dan Rasul ‘Alaihimussalam kemudian pewaris para Nabi dan Rasul ‘Alaihimussalam yaitu para Ulama dan Ahlu Ilmi, para tholobul Ilmi (para santri), Mujahid, Da’i dan juga orang-orang yang membantu mereka dalam berbagai bidangnya.

Sebagai bentuk timbal balik positif alam semesta atau bentuk terima kasih alam ini kepada mereka, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam pada 14 abad yang lalu telah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Baahili Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa Sallam bersabda,

»إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ »

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia”. HR. At-Tirmidzi (No. 2685) dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul kabiir (No. 7912), dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahumullah dalam Silsilatul Ahadits Shahihah (4/467).

Sekitar 8,7 juta spesies hewan dan tumbuhan hidup di bumi. Jumlah tersebut boleh dibilang akurat dibandingkan dengan data yang sempat dipublikasikan. Sebelumnya, pertengahan 1700-an, ilmuwan Swedia, Carl Linnaeus menemukan 1,25 juta spesies. Jumlah itu selanjutnya diklasifikasikan melalui sistem taksonomi yang masih digunakan hingga sekarang. Sementara angka 8,7 juta merujuk pada hasil analisis matematika terhadap spesies yang diketahui. Namun, angka 8,7 juta tersebut baru mencakup 86 persen spesies darat dan 91 persen spesies laut. Artinya, masih ada kemungkinan jumlah spesies yang hidup di bumi lebih dari jumlah yang diprediksikan tersebut. Dan dari jumlah di atas sekitar 953.434 spesies telah dimasukan dalam katalog. Jika benar penelitian ini, maka hal ini semakin menyakinkan kita atas kemuliaan Ahlu ilmi karena jumlah makhluk diatas bahkan lebih semua mendo’akan ahlu ilmi setiap waktu tanpa henti.

Kemuliaan Ilmu dan ahlu ilmi juga telah diisyaratkan dalam riwayat yang dho’if secara marfu’ (hadits yang disumberkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam) dan shahih secara mauquf (hadits yang disumberkan ke Sahabat Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam) kepada Ibnu Mas’ud dan Abu Darda Radhiyallahu’ anhuma serta kepada ‘Umar bin Abdul Azizi Rahimahumullah dengan beberapa lafazh yang berbeda–beda, dikatakan,

« اغد عالما او متعلما او مستمعا او محبا و لا تكن الخامس فتهلك والخامس ان تبغض العلم و اهله »

“Jadilah orang alim atau muta’alim (santri) atau mustami’ (pendengar) atau muhibban (pencinta) dan jangan jadi golongan orang yang kelima, yang kelima, yaitu membenci ilmu dan ahli ilmu.” HR. Abu Al-Haitsamah dalam Kitabul Ilmi, Imam Ibnu Abdil Barr dalam Jaami’ Bayan Al-Ilmi, Imam Baihaqi, Ad-Darumi dan lain sebagainya dapat dilihat juga Kasyful Astar fii Akhbaar Al-Masyhuroh karya penulis.

Dengan demikian, maka solusi terpenting dan utama demi perbaikan serta pelestarian atau penjagaan alam yang telah Allah Ta’ala karuniakan kepada manusia bukan hanya perbaikan zhahir alam yang telah dirusak manusia, mendirikan berbagai macam organisasi atau gerakan sosial saja tetapi lebih dari itu, yaitu dengan menggunakan seluruh kemampuan yang Allah telah anugrahkan kepada kita untuk membantu orang-orang yang menegaknya kaliamat Allah Ta’ala di muka bumi ini, yaitu para Ulama, Da’i, mujahid dan lain sebagainya. Kemudian juga membawa umat untuk dekat dengan mereka agar tetap terbimbing pada jalan yang benar.

Demi Allah Ta’ala kemudian demi menjaga alam yang kita tempati, melalui tulisan ini mari kita sebarkan kebaikan ini kepada saudara, teman dan siapa saja yang dapat kita jangkau. Semoga menjadi amal shalihah dan jariyah. Amiin…

Wallahu a’lam bish-shawab…

——————————————————————————————————————-

Penulis : Ust. Abu Abdirrahman Al-Hajjamy, MA.
(Serpong, 26 Dzuqo’dah 1436 H. / 10 September 2015)

PERHATIAN !!!

Diperbolehkan mengcopy serta memperbanyak content tulisan ini untuk kepentingan Da’wah Islamiyah dengan menyertakan sumber : https://alaminiyah.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s