haji1

Hadits-Hadits Dha’if (lemah) & Maudhu’ (Palsu) Seputar Haji dan Qurban – Ust. Abu Abdirrahman Al-Hajjamy, MA.

haji1

Ibadah Haji dan Qurban dengan segala keutamaan yang ada, merupakan salah satu rukun Islam dan syi’ar Islam terbesar dimana tidak luput dari perilaku pengamalan yang melampaui batas pada sebagian kaum muslimin. Itu semua terjadi tidak lepas dari dua hal yakni karena lemahnya iman serta kejahilan dari ajaran yang benar sesuai dengan sunnah Rasul Shallallahu `alaihi wa Sallam :

Padahal Islam adalah agama yang ilmiah. Setiap amalan, keyakinan, atau ajaran yang disandarkan kepada Islam harus memiliki dasar dari Al Qur’an dan Hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam yang otentik. Dengan ini, Islam tidak memberi celah kepada orang-orang yang beritikad buruk untuk menyusupkan pemikiran-pemikiran atau ajaran lain ke dalam ajaran Islam.

Karena pentingnya hal ini, tidak heran apabila Abdullah bin Mubarak Rahimahullah mengatakan perkataan yang terkenal:

”الإسناد من الدين، ولولا الإسناد؛ لقال من شاء ما شاء “

“Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya.” (Lihat dalam Muqaddimah Shahih Muslim, Juz I, halaman 12)

Berkata Imam Muhammad bin Sirin rah. :

“Kami tidak pernah bertanya tentang sanad, namun tatkala muncul fitnah, maka kami mengatakan : “Sebutkan para parawi kalian.” Lalu dilihat kalau dia dari kalangan ahli sunnah maka haditsnya diterima, namun kalau dari ahli bid’ah maka haditsnya ditolak.”

Perhatian pada sanad ini sangat dikedepankan oleh para ulama’ hadits dalam menerima sebuah riwayat, sehingga mereka tidak menerima kecuali yang benar-benar shahih dari Rasulullah. (Lihat As Sunnah Qoblat Tadwin oleh Muhammad Ajaj Al Khothib hal : 220-225)

Pernah ada seseorang yang berkata kepada Imam Yahya bin Sa’id Al Qothon Rahimahullah :“Tidakkah engkau takut bahwa orang-orang yang tidak engkau ambil haditsnya akan menjadi musuhmu pada hari kiamat kelak ? maka beliau menjawab :

“Mereka menjadi musuhku itu jauh lebih baik daripada yang menjadi musuhku adalah Rasulullah, dimana besok beliau akan mengatakan : “Kenapa engkau tidak membersihkan haditsku dari para pendusta ?.” (Lihat Al Kifayah fi Ilmir Riwayah oleh Al Khothib Al Baghdadi hal : 44)

Juga pernah ada yang berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal : “Sangat berat bagiku untuk mengatakan : “Si Fulan lemah, si fulan pendusta.” Maka Imam Ahmad berkata : “Jika engkau diam, dan sayapun diam, lalu dari mana orang akan bisa mengetahui mana hadits yang shahih dengan hadits yang lemah ?.” (Lihat Al Kifayah hal : 46)

Para ulama’ telah mengerahkan segala kemampuan mereka untuk membedakan mana rawi yang lemah dengan yang terpercaya, mereka menulis banyak kitab, baik kitab yang besar maupun kecil.

Dengan adanya sanad, suatu perkataan tentang ajaran Islam dapat ditelusuri asal-muasalnya secara otentik.

Yahya bin Sa’id Al-Qaththan  mengatakan, “Jangan kalian memerhatikan hadits, namun perhatikanlah sanadnya. Jika sanadnya shahih maka amalkanlah. Namun, jika tidak, jangan engkau tertipu dengan hadits yang sanadnya tidak shahih.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 9/188)

Ishaq Rahimahullah juga mengatakan, “Jika Abdullah bin Thahir —seorang amir di Khurasan— bertanya kepadaku tentang satu hadits, lalu aku menyebutnya tanpa sanad, dia bertanya kepadaku tentang sanadnya seraya mengatakan, ‘Meriwayatkan hadits tanpa sanad merupakan perbuatan orang-orang sakit! Sesungguhnya sanad hadits merupakan kemuliaan dari Allah untuk umat Muhammad’.” (Fathul Mughits, 3/4)

Ibadah haji dan Qurban adalah dua ibadah yang mendapat tempat sangat penting dalam Islam tapi sayang sebagian muslimin masih berlandaskan hadits-hadits yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, telah diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

”مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ “

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 107 dan Muslim no. 3)

Al-Mughirah radhiallahu ‘anhu berkata:  “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

”إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ“

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama orang lain. Karena barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 1209 dan Muslim no. 4)

”َنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تَكْذِبُوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَكْذِبُ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ“

Dari ‘Ali radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah, ‘Janganlah kamu berdusta atas (nama)ku, karena sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka pasti ia masuk Neraka.’” [HR. Ahmad (I/83), Al-Bukhari (no. 106), Muslim (I/9) dan At-Tirmidzi (no. 2660)]

Di antara hadits-hadits tersebut sebagai berikut:

1. Jum’at Hajinya Orang Miskin

”الدَّجَاجُ غَنَمُ فٌقَرَاءِ أُمَّتِيْ وَاْلجُمُعَةُ حَجُّ فُقَرَائِهَا“

“Ayam adalah kambingnya orang fakir dari kalangan umatku, dan shalat jum’at hajinya orang fakir mereka”. [HR. Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin (3/90)]

Kedudukan hadits ini, adalah hadits Maudhu’ (palsu) sehingga seorang muslim tidak boleh meyakininya, maksudnya bukan berarti tidak boleh memelihara ayam dan melaksanakan ibadah haji, tetap ini merupakan perintah Syariat tetapi dalilnya bukan dengan hadits ini. Karena masih banyak hadits-hadits terkait dengan ibadah haji. Allah Ta’ala dengan rahmat dan rahum-nya bahkan masih memberikat setiap orang terutama orang fakir dan miskin untuk mendapat pahala Haji dan Umrah yang sempurna, yaitu dengan mejalankan shalat Isyraq. Baca Artikel : Shalat Isyraq.

2. Haji Dilaksanakan Sebelum Menikah

”الْحَجُّ قَبْلَ التَّزَوُّجِ“

“Haji itu dilaksanakan sebelum menikah.”

Kedudukan hadits, hadits Maudhu’ (palsu). Sebagaimana telah dinyatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullah dalam kitabnya Adh-Dha’ifah no. 221. Hadits ini juga dibawakan oleh Imam As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir.
Ada hadits lain yang semakna dengan hadits ini, yaitu;

”مَنْ تَزَوَّجَ قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ فَقَدْ بَدَأَ بِالْمَعْصِيَةِ“

“Siapa yang menikah sebelum menunaikan ibadah haji maka sungguh ia telah memulai dengan maksiat.”

Hadits ini juga hadits Maudhu’ (palsu). Sebagaimana juga telah dinyatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullah dalam kitabnya Adh-Dha’ifah no. 222. Diriwayatkan hadits ini oleh Imam Ibnu ‘Adi, 20/2.

3. Keberkahan dengan Menyambut Orang yang Berhaji

”إِذَا لَقِيْتَ الْحَاجَّ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَصَافِحْهُ، وَمُرْهُ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بَيْتَهُ، فَإِنَّهُ مَغْفُوْرٌ لَهُ“

“Apabila engkau bertemu dengan seorang haji, ucapkanlah salam padanya dan jabatlah tangannya, serta mohonlah padanya agar memintakan ampun bagimu sebelum ia masuk ke dalam rumahnya, karena orang yang berhaji itu telah diampuni.”

Al-Imam Al-Albani rahimahullah menyatakan hadits ini maudhu’, diriwayatkan oleh Ahmad, 2/69 dan 128, Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin, 2/265, Abusy Syaikh dalam At-Tarikh, hal. 177. (Adh-Dha’ifah no. 2411)

4. Ancaman Bagi Orang yang Berhaji Namun Tidak Menziarahi Kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

”مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ وَلَمْ يَزُرْنِي فَقَدْ جَفَانِي“

“Siapa yang haji ke Baitullah namun ia tidak menziarahi kuburku maka sungguh ia telah berbuat jafa` (kasar) kepadaku.”

Al-Imam Al-Albani rahimahullah menyatakan hadits ini maudhu’, demikian dikatakan Al-Hafizh Adz-Dzahabi dalam Al-Mizan, 3/237, dibawakan oleh Ash-Shaghani dalam Al-Ahadits Al-Maudhu’ah, hal. 6. Demikian pula Az-Zarkasyi dan Asy-Syaukani dalam Al-Fawa`id Al-Majmu’ah fil Ahadits Al-Maudhu’ah, hal. 42. (Adh-Dha’ifah no. 45)

5. Darah Hewan Qurban Kemana Jatuhnya?

“Wahai manusia, hendaklah kalian menyembelih qurban, dan berharaplah pahala dengan darahnya, karena sesungguhnya walaupun darah itu jatuh di tanah, akan tetapi sesungguhnya darah itu jatuh di dalam wadah milik Allah.”

HADITS INI PALSU. Al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam Al-Ausath, dan dalam sanadnya ada `Amr bin Al Hushain Al ‘Uqaili dan dia adalah orang yang haditsnya di tinggalkan”.

6. Hewan Qurban adalah Tunggangan ke Surga.

“Besarkanlah hewan-hewan qur ban kalian, karena sesungguhnya hewan-hewan qurban itu adalah tunggangan kalian di atas shirath (jembatan di atas neraka).“

HADITS INI TIDAK ADA ASALNYA DENGAN LAFAZH INI. Ibnush Shalah berkata: “Hadits ini tidak dikenal, dan tidak tsabit”. Dalam hadits lain dengan lafazh (istafrihuu) sebagai ganti (‘azhzhimuu) akan tetapi sanadnya sangat dha’if.

7. Qurban adalah Benteng Neraka

“Barangsiapa yang menyembelih qurban dengan jiwa yang senang terhadap (qurban itu), dan dengan mengharapkan (pahala) terhadap hewan qurbannya, maka hewan itu sebagai dinding dari neraka untuknya.”

HADITS INI PALSU. Al-Haitsami berkata di dalam Al-Majma (IV/17) setelah dia menyebutkannya dari hadits Hasan bin `Ali : “Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani di dalam Al-Kabir dan di dalam sanadnya ada Sulaiman bin `Amr An-Nakha’i dan dia adalah pendusta.”

Ibnu Hibban berkata: “Dia adalah laki-laki yang zhahir-nya shalih, akan tetapi dia benar-benar memalsukan hadits”.

Dan termasuk kelalaian As-Suyuthiy, dia memasukkan hadits ini di dalam Al-Jami’ush Shaghir dari sanad tetapi pensyarahnya, yaitu Al Munaawi membantahnya dengan ucapan Al-Haitsami ini, lalu berkata : “Maka sepantasnya bagi penyusun untuk membuangnya dari kitab ini.”

8. Tetesan Darah Qurban

“Hai Fathimah, berdirilah mendekati qurbanmu, dan saksikanlah! Karena sesungguhnya pada tetesan darahnya yang pertama, seluruh dosa yang telah engkau lakukan akan diampuni.“

HADITS INI MUNGKAR. Diriwayatkan oleh Al-Hakim (III/ 222) dari jalan An-Nadr bin Isma’il Al-Bajali yang berkata: Abu Hamzah Ats-Tsumali telah bercerita kepada kami dari Sa’id bin Jubair dari `Imran bin Hushain, marfu’.

Al-Hakim berkata: “Isnad-nya shahih”. Tetapi dibantah oleh Adz-Dzahabi: “(Tidak benar) bahkan Abu Hamzah sangat dha’if, dan (Ibnu) Isma’il tidak begitu (kuat -pen)”. Ath Thabrani juga meriwayatkan hadits ini dari Abu Hamzah juga di dalam Al Kabiir dan Al Ausath sebagaimana tersebut di dalam Al-Majma’ (IV/ 17).

Kemudian Al-Hakim membawakan penguat (syahid) dari jalan `Athiyyah dari Abu Sa’id Al Khudriy marfuu’. Akan tetapi Adz-Dzahabi membantahnya dengan menyatakan bahwa `Athiyyah adalah lemah. Dan dari jalan `Athiyah pula, diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dan Abusy-Syaikh Ibnu Hayan, sebagaimana di dalam At-Targhib (II/102). Ibnu Abu Hatim berkata di dalam Al ‘Ilal (II/38-39): “Aku mendengar bapakku berkata: Hadits itu mungkar.” Abu Qashim Al-Ashbahani juga meriwayatkan seperti itu, sebagaimana di dalam At Targhib, dan dia berkata:

“Sebagian guru kami telah menghasankan hadits (ini) walaupun keadaannya seperti ini, wallahu a’lam…”.

Demikianlah di antara sebagian kecil hadit-hadits yang sangat masyhur dalam kalangan kaum muslimin yang sebenarnya tidak boleh menistbatkan kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam bagi yang ingin lebih luas lagi bahasannya dapat meruju’ kekitab-kitab terkait atau ke buku penulis yang berjudul hadits-hadits dho’if dan palsu terkait ibadah haji dan Qurban.

CATATAN AKHIR

Tulisan ini bukanlah untuk melemahkan kaum muslimin akan tetapi agar lebih berhati-hati dalam beramal sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari Rahimahullah dari Salman al-Farisiy, bahwasanya beliau berkata,

”كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُوْلَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِيْ.“

“Orang-orang biasanya bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan; karena aku takut keburukan akan mendapatkanku (hingga aku terjatuh di dalamnya).” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Ini diperjelas oleh perkataan Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu,

”إِنَّمَا تَنْقُضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً، إِذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلِامِ مَنْ لَا يَعْرِفِ الْجَاهِلِيَّةِ “

“Sesungguhnya tali simpul Islam akan pupus sehelai demi sehelai, apabila tumbuh dalam Islam orang yang tidak mengetahui perkara-perkara jahiliyah (kebathilan).”

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan taufiq dan hidayahnya agar dapat mengabil manfaat dari tulisan ini. Amiin…

Wallahu a’lam bish-shawab…

——————————————————————————————————————-

Penulis : Ust. Abu Abdirrahman Al-Hajjamy, MA.
(Serpong, 8 Dzulhijah 1435 H. / 3 Oktober 2014)

PERHATIAN !!!

Diperbolehkan mengcopy serta memperbanyak content tulisan ini untuk kepentingan Da’wah Islamiyah dengan menyertakan sumber : https://alaminiyah.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s