Potensi Positif dan Negatif Manusia serta Peleburnya – Ust. Abu Abdirrahman Al-Hajjamy, MA.

potensi

POTENSI POSITIF DAN NEGATIF MANUSIA
SERTA PELEBURNYA

Sesungguhnya Setiap manusia mempunyai Potensi positif dan negatif yang telah diungkap oleh Al-Qur’an. Di antara Potensi negatif manusia (sifat-sifat bawaan yang bersifat negatif) yang disebutkan dalam Al-Qur’an, bahwa manusia amat aniaya serta mengingkari nikmat (QS. Ibrahim: 34), manusia sangat banyak membantah (QS. Al-Kahfi: 54), dan manusia bersifat keluh kesah lagi kikir (QS. Al-Ma’arij: 19) dan seterusnya.

Jika disimpulkan maka potensi negatif pada manusia sesungguhnya dapat memicu tumbuhnya sifat-sifat yang tidak terpuji (sifat sayyiah) secara gradual (berkembang dan tumbuh perlahan-lahan), asal muasal potensi negatif itu adalah sifat Bahimiyah (sifat-sifat binatang ternak), kemudian muncul darinya berbagai macam maksiat dan dosa, seperti tamak, rakus, dan ambisi nafsu perut juga biologis termasuk pula perbuatan zina, sodomi, pencurian, memakan harta anak yatim, pengumpulan harta untuk melayani syahwat, serta jalan-jalan tanpa tujuan hanya karena kesenangan semu belaka.

Sifat ini hakekatnya merupakan karakter orang kafir sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman,

﴿…وَ الَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ ﴾

“ … Dan orang-orang kafir mereka selalu bersenang-senang dan mereka makan seperti makannya binatang ternak dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad : 12)

Jika sifat Bahimiyah ini mendominasi seseorang kemudian dibiarkan liar, maka akan muncul mengiringi sifat pertama, yaitu oleh sifat Sabu’iyah (sifat-sifat binatang buas), yaitu sifat amarah, dendam, agresifitas kepada orang lain dengan memukul, mencaci maki dan membunuh, menzholimi serta menghambur-hamburkan kekayaan, dan seterusnya. Mereka lupa bahwa setiap perbuatan akan ada balasannya. Itulah gambaran orang-orang kafir sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla :

﴿ يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ ﴾

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Ruum: 7)

Lantas jika keduanya telah menyatu, maka muncullah sifat berikutnya yang ketiga yaitu sifat syaithoniyah (sifat-sifat setan), seperti sifat dengki, kezaliman, muslihat, tipu daya, anjuran kepada kerusakan dan kemungkaran, juga termasuk di dalamnya kecurangan, kemunafikan dan ajakan kepada bid’ah dan kesesatan.

Lalu terakhir, jika tiga sifat tercela di atas telah menguasai seorang manusia maka akan muncul puncak kerusakan, kemaksiatan, kemungkaran dan dosa yaitu sifat Rububiyah (sifat-sifat ketuhanan) pada dirinya seperti, kebanggan, ketinggian, kedudukan, keangkuhan dan superprioritas atas seluruh makhluk bahkan dengan terang-terangan dan berani mengaku dirinya sejajar dengan tuhan bahkan yang terparah adalah menganggap dirinya adalah Tuhan. Al-Qur’an telah mengisahkan puncak kedurhakaan seorang manusia yang bernama Fir’aun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

﴿ فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَىٰ فَحَشَرَ فَنَادَىٰ فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ ﴾

“Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai.Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya.(Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”.” (QS. An-Nazi’at: 21-24)

Inilah faktor-faktor utama dari segala dosa serta sumber-sumbernya, kemudian memancarlah beragam dosa dan kemaksiatan serta kedurhakaan kepada Ar-Rabb Ta’ala. Terkadang kita terheran-heran kepada orang-orang yang melakukan suatu maksiat yang sangat besar dan merupakan kekufuran tetapi sang pelaku tersebut tenang dan seakan-akan ia tidak melakukan dosa dan kekufuran apapun, maka jawabnya adalah karena sifat-sifat negatif di atas telah menguasainya dan terus mengakar sehinga menjadi karakter dirinya yang tak terpisahkan.

Adapun faktor utama dari munculnya sifat saiyyiah (tercela) tersebut tidak lepas dari tiga hal utama, yaitu :

Pertama, kejahilan/kebodohan sehingga tidak dianggapnya suatu dosa dan pelanggaran yang membuahkan pelakunya enggan untuk bertaubat hal ini terkadang terjadi hingga akhir hayatnya.

Kedua, lemahnya iman dan yakinnya, walaupun tahu tetapi tetap dilanggar. Seperti yang terjadi dengan iblis la’natullah ‘alahi. Sebab yang kedua ini terjadi karena adanya hubbu lighairillahi (kecintaan pada selain Allah) sebab dari tidak ikhlas dalam beramal dan beribadah.

Ketiga, Lingkungan yang tidak kondusif serta berteman dan bersahabat dengan orang-orang yang tidak baik. Lingkungan juga teman yang tidak baik sangat besar pengaruhnya pada pembentukan karakter serta kebiasaan. Maka hati-hatilah dalam memilih lingkungan serta pilih-pilihlah dalam bergaul.

OBAT ATAU PELEBUR POTENSI NEGATIF

Obat atau pelebur dari segala dosa serta faktor-faktor utama penyebab dosa-dosa tersebut adalah segera bertaubat dengan menjalankan seluruh syaratnya, kemudian memperbanyak amal-amal shalihah dengan penuh keikhlasan hanya mencari ridha Allah Ta’ala dan mengikuti sunnah Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan kedua hal tersebut terjagalah amal-amal shalihah dari kerusakan dan kebathilan serta kesia-siaan.

Dengan demikian, maka belajar dan keinginan kuat untuk lebih baik adalah kuncinya, karena tidak mungkin tanpa ilmu iman serta Islam kita akan menjadi baik. Allah Ta’ala berfirman,

﴿ إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴾

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70)

Berkata Imam Al-Bukhari rahimahullahu ‘alaihi :

العلم قبل القول والعمل

“Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan.” (Shahih Al-Bukhari)

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullahu ‘alaihi mengatakan,

من عبد الله بغير علم كان ما يفسد أكثر مما يصلح

“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15, Majmu’ Fataawa Ibn Taimiyyah: 2/383)

Kemudian untuk menjaga agar tetap istiqamah dan untuk memunculkan sifat-sifat Mahmudah/terpuji yang lain yang akan mengapus sifat-sifat negatif tersebut adalah dengan ikhtiyaru Ash-Shuhbah Ash-Shalihin (mencari teman yang Shalih). Sesungguhnya sejelak-jelek orang dapat berubah menjadi manusia terbaik karena Shuhbah Shalihin dan sesungguhnya seshalih-shalihnya seseorang dapat berubah menjadi manusia paling buruk karena salah dalam bergaul. Terkait point ini sangatlah banyak hujjah dari Al-Quran dan hadits.

Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:

” مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَمِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً. “

“Permisalan teman yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya, dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu, dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Point terakhir, demi tersebarnya kebaikan di muka bumi ini serta demi mengembalikan umat manusia ke jalan Allah Ta’ala, maka Allah Subnallahu wa Ta’ala telah menjadikan kewajiban mengajak, berda’wah bagi setiap yang telah mendapat hidayah Allah. Selain kebaikan tersebar dijagat raya ini, Allah-pun akan menjaga iman dan Islam kita hingga kembali keharibaan-Nya kelak.

Semoga Allah Ta’ala dengan rahmat, karunia dan petunjuk-Nya memberikan kekuatan kepada penulis dan kita semua untuk mengamalkannya. Aamiin

Wallahu Ta’ala bish-shawab…

——————————————————————————————————————-

Penulis : Ust. Abu Abdirrahman Al-Hajjamy, MA.
(Serpong, 24 Sya’ban 1435 H. / 22 Juni 2014)

PERHATIAN !!!

Diperbolehkan mengcopy serta memperbanyak content tulisan ini untuk kepentingan Da’wah Islamiyah dengan menyertakan sumber : https://alaminiyah.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s