Penghancur Segala Kenikmatan, Hubbud Dunya – Ust. Abu Abdirrahman Al-Hajjamy, MA.

penghancur segala kenikmatan

Persaingan hidup yang kian ketat tak lagi terhindarkan terutama bagi mereka yang hidup di kota-kota besar. Di ibukota Jakarta dan sekitarnya contohnya pengembangan terjadi dimana-mana, para developer berlomba-lomba menciptakan rumah-rumah berdesain terkini, mobil-mobil tumpah ruah di jalanan hingga mengakibatkan kemacetan pajang di jalan-jalan ibukota, mall-mall besar dan mewah berdiri dimana-mana, apartment dibangun layaknya gedung-gedung pencakar langit, ruko-ruko berjejer disepanjang jalan.

Gaya hidup metropolitan menjadikan laki-laki merawat diri seperti perempuan, salon-salon maupun klinik-klinik kecantikan menawarkan perawatan-perawatan yang menjanjikan tampak lebih muda dan cantik sampai-sampai menjadikan lupa akan umur yang terus bertambah tua namun karena perawatan dan tuntutan gaya hidup ia rela tampil muda dan melupakannya, tujuan akhirat bergeser menjadi impian mencari dunia, kesuksesan dinilai dari harta, kecantikan/ketampanan, jabatan dan seterusnya. Mereka gelap mata dan lupa daratan hingga melanggar perintah dan larangan penciptanya yaitu Allah Swt.

Sungguh merupakan kebodohan bila seorang insan menambatkan qalbu-nya pada impian yang semu tersebut. Hatinya sibuk dengan angan-angan panjang seakan-akan ia akan hidup di dunia seribu tahun lamanya. Jerih payahnya semata-mata untuk mengejar dunia, sementara akhirat bukan perkara penting lagi baginya.

Demikianlah keadaan manusia yang jiwanya telah terjangkiti penyakit (wahn) yaitu cinta dunia dan takut kematian. Betul-lah yang mengatakan,

Hubbud Dunya adalah cinta dunia yang berlebihan, merupakan induk segala kesalahan (maksiat) serta perusak agama.

Penyakit inilah yang menyebabkan seorang muslim menjadi lemah. Sehingga musuh-musuh dengan leluasa menebar rasa takut dan sifat pengecut dalam dirinya, syaitan-syaitan (manusia dan jin) dengan mudah menyesatkannya. Sementara orang-orang kafir dan musuh Islam lainnya memandangnya dengan sebelah mata.

Karenanya Nabi kita Muhammad Saw. telah memberikan wasiatnya, yang merupakan formula bagi jenis penyakit tersebut. Rasulullah Saw. bersabda,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, “Perbanyaklah oleh kalian mengingat penghancur segala kelezatan, yaitu kematian.” (HR. An-Nasaa’i No. 1824, Tirmidzi No. 2307 dan Ibnu Majah No. 4258 dan Ahmad. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Albani).

Mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi Saw. bersabda,

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

“Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Albani).

Benar-lah apa yang disabdakan Nabi kita Muhammad Saw. bahwa hakekat kematian itu adalah penghancur dari segala ketamakan dan kerakusan, meluluh-lantakkan kepongahan dan kesombongan, pemutus segala kelezatan dan kenikmatan, penghancur semua impian dan harapan yang semu, tidak ada obat yang paling bermanfaat dan mujarab bagi hati yang kelam selain mengingat kematian, ia akan menghalangi seseorang dari kemaksiatan, melembutkan dan menyinari hati dari kegelapan, mengusir kesenangan terhadap dunia serta membuat ringan musibah yang datang menimpa.

Al-Imam Ad-Daqqiq rah. berkata :

مَنْ أَكْثَرَ ذِكَرَ المَوْتِ أُكْرِمَ بِثَلَاثَةٍ: تَعْجِيلِ التَّوْبَة ، وَقَنَاعَةِ القَلْبِ ، وَنَشَاط العِبَادَةِ ، “وَمَنْ نَسِيَ المَوْتَ عُوجِلَ بِثَلَاثَةٍ : تَسْوِيفِ التَّوْبَةِ، وَتَرْكِ الرِّضَا بِالْكَفَافِ ، والتَّكَاسُلِ فِي العِبَادَةِ.”

“Barangsiapa yang banyak mengingat kematian maka akan dimuliakan dengan tiga hal; bersegera dalam bertaubat, puas hati dan semangat ibadah, dan barangsiapa yang lupa akan kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; mengundur taubat, tidak ridha dengan keadaan dan malas ibadah.” Lihat kitab At Tadzkirah fi Ahwal Al Mauta wa Umur Al Akhirah, karya besar Al-Imam Al-Qurthubi rah.)

Di dalam hadits Jabir bin Abdullah ra. disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

قَالَ لِي جِبْرِيْلُ : يَا مُحَمَّدَ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُلَاقِيْهِ

“Berkata Jibril kepadaku, ‘Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, sesungguhnya kamu akan mati, dan cintailah siapa yang engkau kehendaki, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya, dan beramal-lah sesukamu karena sesungguhnya engkau akan menemui amal-mu tersebut.’“ (Shahih Al-Jami’ No. 4355, Hadits Hasan)

Menemui amal-mu adalah untuk di-hisab. Al-Hisab artinya hitungan atau pemeriksaan, maksudnya bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggung jawaban atas amal perbuatannya di dunia ini. Adapun orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya, maka akan dihitung dan diperiksa amalnya dengan pemeriksaan yang mudah, yaitu Al-Ardhu (pemaparan).

Dari Aisyah ra.ha. bahwa Rasulullah Saw. menyatakan di dalam sabdanya:

مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ

“Barangsiapa yang dihisab, maka ia tersiksa”. Aisyah bertanya, “Bukankah Allah telah berfirman, “Maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah?.” Maka Rasulullah Saw. menjawab: “Hal itu adalah Al ‘Ardhu. Namun barangsiapa yang ditanya tentang hisabnya, maka ia akan binasa.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

Al-Ardhu sebagaimana disebutkan dalam Tafsir As-Sa’di, “Allah menetapkan bagi hamba akan dosa-dosanya, setelah dia merasa akan binasa, Allah Swt. berfirman : “Aku telah menutupi dosa-dosa tersebut atasmu di dunia, maka pada hari ini Aku tutup dosa-dosamu untukmu.“

Mengingat berat dan mengerikannya hari hisab itu sungguh benar-lah perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i rah.,

إِنَّ للهِ عِبَاداً فُطَنَا – طَلَّقُوا الدُّنْيَا وخَافُوا الفِتَنَا
نَظَروا فيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا – أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنَا
جَعَلُوها لُجَّةً واتَّخَذُوا – صَالِحَ الأَعمالِ فيها سُفُنا

Sesungguhnya Allah,
memiliki hamba-hamba yang cerdas
mereka meninggalkan dunia
karena takut terhadap fitnahnya
Mereka melihat dan memperhatikan dunia,
maka tatkala mereka mengetahui
bahwa dunia bukanlah tempat tinggal (Hakiki) bagi yang hidup
Maka mereka menjadikannya sebagai samudera
sedang amal shalih sebagai bahteranya.

(dinukil dari Al-Imam An-Nawawi rah. dalam Kitab Riyadhus Shalihin)

Berkata Al-Imam Asy-Syafi’i rah.,

يا واعظ الناس عما أنت فاعله = يا من يعد عليه العمر بالنَّفسِ
أحفظ لشيبك من عيبٍ تدنَّسه = إنَّ البياض قليلُ الحمل للدّنَسِ
كحامل لثياب الناس الناس يغسلُها = وثوبه غارقٌ في الرِّجس والنَّجسِ
تبغي النجاة ولم تسلك مسالكها = إن السفينة لا تجري على اليَبَسِ
ركوبُك النَّعش ينسيك الركوب على = ما كنت تركب من بغل ومن فرسِ
يوم القيامة لا مال ولا ولد = وضمَّة القبرِ تنسى ليلةَ العُرُسِ

Wahai manusia yang mengajak melakukan kebaikan
sebagaimana kau amalkan
Wahai manusia yang umurnya selalu dihitung dengan tarikan nafas
Jagalah masa tuamu dari perbuatan nista yang akan mengotori dirimu
Sesungguhnya baju putih itu peka terkena kotoran
Janganlah seperti binatu,
yang pekerjaannya mencuci pakaian orang lain
Sedangkan pakaiannya sendiri dibiarkan penuh kotoran dan najis
Kau mengharapkan kesuksesan
tapi enggan melangkahkan kaki ke jalan kesuksesan
Sesungguhnya perahu itu tidak bisa berjalan di atas daratan
Keranda mayat yang akan kau tumpangi
akan melupakan segala kendaraan yang pernah kau naiki
seperti keledai dan kuda
Pada hari kiamat nanti, tidaklah berguna harta dan anak
Dan himpitan alam kubur,
akan melupakan kenikmatan malam pertama (malam pengantin)
Kematian disebut haadzim (pemutus)
karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ »

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah Saw., lalu seorang Anshor mendatangi Beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?.” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?.”, ia kembali bertanya, Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

Mengingat kematian membantu kita khusyu’ dalam shalat. Nabi Saw. bersabda,

اذكرِ الموتَ فى صلاتِك فإنَّ الرجلَ إذا ذكر الموتَ فى صلاتِهِ فَحَرِىٌّ أن يحسنَ صلاتَه وصلِّ صلاةَ رجلٍ لا يظن أنه يصلى صلاةً غيرَها وإياك وكلَّ أمرٍ يعتذرُ منه

“Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus. Hadits ini hasan sebagaimana perkataan Syaikh Albani)

Semoga Allah Ta’ala tetap memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua agar hanya akhirat-lah tujuan hidup kita… Wallahua’lam bish-shawab…

——————————————————————————————————————-

Penulis : Ust. Abu Abdirrahman Al-Hajjamy, MA.
(Serpong, 10 Jumadil Akhir 1435 H. / 10 April 2014)

PERHATIAN :

Diperbolehkan mengcopy serta memperbanyak content tulisan ini untuk kepentingan Da’wah Islamiyah dengan menyertakan sumber : https://alaminiyah.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s