Terhalangnya Ilmu dan Rezeki – Ust. Abu Abdirrahman Al-Hajjamy, MA.

terhalang ilmu& rezeki

Dalam kitab  Ad-Da`u wad Dawa`, karya Al-Imam  Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rah. menyebutkan secara panjang lebar dampak negatif dari dosa. Dua di antaranya bisa kita sebutkan di sini sebagai peringatan:

Pertama, Terhalang dari Ilmu yang Haq (Benar/Lurus).

Karena ilmu merupakan cahaya yang dilemparkan ke dalam hati, sementara maksiat akan memadamkan cahaya.

Suatu ketika Imam Syafi’i rah. duduk dihadapan Imam Malik rah., Ketika itu Imam Malik rah. terkesima dengan kelebihan yang dimiliki Imam Syafi’i rah. lalu Imam Malik rah. berkata, “Allah telah menganugerahkan seberkas cahaya dalam hatimu, maka janganlah sekali-kali kamu memadamkannya dengan kegelapan maksiat.”

Namun pada suatu hari ketika Imam Syafi’i rah. sedang dalam perjalanan menuju rumah gurunya Waki’ Ibnu Jarah rah. wasiat Imam Malik rah. tersebut ia langgar. Ia melihat tumit seorang wanita, seketika itu pulalah hafalannya kacau padahal ia terkenal mampu menghafal persis seperti yang tertulis, bahkan agar hafalannya tak tercampur ia meletakkan sebelah tangannya di atas lembaran berikutnya. Imam Waki’ rah. pun kembali mengingatkan Imam Syafi’i rah. terhadap nasihat Imam Malik rah., yaitu agar ia meninggalkan dosa sebagai obat manjur untuk menguatkan hafalannya.

Kuadukan kepada Waki’, buruknya hafalanku
Maka ia menasihatiku agar aku meninggalkan maksiat
Ia juga mengingatkanku bahwa ilmu adalah cahaya
Dan cahaya Allah takkan diberikan kepada pelaku maksiat
(Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i  rah., Bab : Al-‘Ilmu nur)

Kedua, Terhalang dalam Memperoleh Rezeki dan Dipersulitnya Urusan.

Takwa kepada Allah Swt. akan mendatangkan rezeki dan memudahkan urusan seorang hamba, sebagaimana Firman Allah Swt. :

﴿… وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ﴾

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar (dari permasalahannya) Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq : 2-3).

﴿…وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا ﴾

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq : 4).

Meninggalkan takwa berarti akan mendatangkan kefakiran dan membuat si hamba terbelit urusannya.

Hal ini pula yang membuat Abu Darda ra. menangis tatkala umat Islam berhasil melakukan ekspansi ke kawasan Cyprus. Ketika ia ditanya, “Apakah yang membuat kamu menangis di saat Allah memuliakan Islam dan menghinakan kemusyrikan dan orang-orangnya?.” Maka ia menjawab, “Alangkah terhinanya makhluk Allah ketika meninggalkan perintah-Nya. Sebenarnya mereka adalah umat yang kuat dan mempunyai kemampuan, namun mereka telah meninggalkan perintah Allah Azza wa Jalla.

Tatkala kamu dalam limpahan nikmat, maka peliharalah ia
Karena dosa-dosa akan membuatnya sirna
Peliharalah nikmat itu dengan ketaatan pada Tuhan sekalian hamba
Karena sesungguhnya Ia Maha Cepat menurunkan siksa.

Mungkin kadangkala Anda bertanya-tanya mengapa saat ini kebanyakan orang yang fasik dan selalu bermaksiat memiliki kedudukan istimewa? namun orang-orang yang selalu berpegang teguh pada kebenaran dan ajaran Islam menderita kefakiran, tidak berdaya dan terhina?

Rasulullah Saw. bersabda,

“إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيْمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَاعْلَمْ أَنَّ ذَلِكَ مِنْهُ اِسْتِدْرَاجٌ.”

“Apabila kamu menyaksikan seorang hamba mendapatkan dari Allah ta’ala apa yang ia sukai dari kehidupan dunia, namun ia terus berkecimpung dalam kemaksiatan, maka ketahuilah bahwa semua itu hanyalah istidraaj.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya)

Lalu Rasulullah Saw. membacakan firman Allah Swt. :

﴿ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ ﴾

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun hatikan membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’aam : 44)

Istidraaj adalah penangguhan hukuman dan ditundanya azab.

“Wahai saudaraku, tatkala engkau merasa Allah Swt. melimpahkan berbagai nikmat sedangkan engkau melakukan maksiat , maka berhati-hatilah. Jika Allah Ta’ala memberikan rezeki berupa harta, anak, kesehatan ataupun ketampanan namun kau balas semua itu dengan maksiat, maka sekali lagi berhati-hatilah. Takutlah akan sirnanya nikmat tersebut, takutlah dengan siksa-Nya yang datang dengan tiba-tiba dan akan beratnya kemurkaan-Nya serta hilangnya pengampunan-Nya.

﴿ وَلَوْلَا أَن يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَّجَعَلْنَا لِمَن يَكْفُرُ بِالرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَابًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِئُونَ وَزُخْرُفًا وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ ﴾

“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 33-35)

Dalil-dalil lain istidraaj ini sebagai berikut :

1. QS. Thaha: 131

﴿ وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ﴾

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

2. QS. Al-An’am: 44

﴿ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ ﴾

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

3. QS. Al-A’raf: 182-183

﴿ وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ﴾

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS. Al-A’raf: 182-183)

4. QS. Ali Imran: 178

﴿وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ﴾

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Ali Imran: 178)

5. QS. Al-Mu’minun: 55-56

﴿أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَنُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَل لَّا يَشْعُرُونَ﴾

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al-Mu’minun: 55-56)

Al-Qur’an telah menceritakan tentang umat terdahulu yang telah menerima ujian ini, seperti Fir’aun, Haman dan Qorun yang merupakan umat Nabi Musa As., Kaum Nabi Nuh As., Nabi Shalih As., dan Nabi Luth As. juga menerima ujian dan akhir yang serupa. Kita ambil satu contoh lagi, masih ingatkah pembaca pada kisah Nabi Luth? Mereka menerima ujian dari Allah Swt. berupa kesejahteraan hidup dan juga berupa paras menawan. Hingga akhirnya, maksiat tak terperi terjadi di negeri itu. Kaum homoseksual memenuhi kota tersebut.

Perjanjian Lama menyebut kota tersebut dengan nama Sodom. Sedangkan Al-Qur’an mencatat dalam surat Al-Ankabut dan Adz-Dzariyat, kota ini akhirnya terbenam setelah malaikat membolak-balikkan tanah dan bebatuan di sekeliling mereka.

Ada lagi sebuah kisah terkenal yang tertulis dalam Al-Qur’an tentang kaum Tsamud yang tertulis berulang kali dalam Al-Qur’an. Apa bentuk ujian kenikmatan yang diberikan pada kaum ini? Mereka dianugerahi otak yang cerdas. Madain Shalih menjadi saksi keterampilan tangan-tangan mereka, pahatan mereka di bukit-bukit berbatu membentuk istana-istana megah tempat tinggal mereka.

Tapi, bersyukurkah mereka dengan nikmat-nikmat tersebut? Tidak. Satu perintah kecil untuk menguji keimanan mereka dari Nabi Shalih As. saja tak mampu mereka taati. Unta betina yang harusnya mereka jaga disembelih hanya demi menantang Nabi Shalih As. untuk menunjukkan eksistensi Rabb-nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا ۖ أَتَنْهَانَا أَن نَّعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِّمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّي وَآتَانِي مِنْهُ رَحْمَةً فَمَن يَنصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ عَصَيْتُهُ ۖ فَمَا تَزِيدُونَنِي غَيْرَ تَخْسِيرٍ ﴾

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya). Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami”. Shaleh berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian.” (QS. Hud: 61-63)

Pengingkaran kaum Tsamud membuat Shalih As. terpaksa menunjukkan mukjizat dari Allah. Seperti yang telah tersebut dalam ayat tersebut, ujian itu mereka langgar.

Lantas di mana letak istidraaj-nya? Perhatikan ayat di bawah ini :

﴿فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ۖ ذَٰلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ ﴾

“Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shaleh: “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan”. (QS. Hud: 65)

Allah Swt. melalui Nabi Shalih As., memberikan waktu tiga hari untuk menggenapkan kesenangan dunia mereka. Tapi, seperti kata Nabi Shalih As., “Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” Dan adzab pun turun pada mereka.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla memberikan manfaat dari tulisan ini, Aamiin…

——————————————————————————————————————-

Disadur dari kitab Ad-Da`u wad Dawa` & Wa Aswataahu Wa In’Afauta. Ditulis serta tambahan oleh Ust. Abu Abdirrahman Al-Hajjamy, MA.

PERHATIAN :

Diperbolehkan mengcopy serta memperbanyak content tulisan ini untuk kepentingan Da’wah Islamiyah dengan menyertakan sumber: https://alaminiyah.wordpress.com/

——————————————————————————————————————-

One thought on “Terhalangnya Ilmu dan Rezeki – Ust. Abu Abdirrahman Al-Hajjamy, MA.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s