SHALAT ISYRAQ

SHALAT ISYRAQ

shalat isyraq.jpg

Apakah shalat Isyraq adalah shalat Dhuha?

Para ulama berbeda pendapat mengenai penamaannya apakah ia adalah shalat Isyraq atau shalat Dhuha.

Pendapat pertama, shalat Isyraq adalah shalat dhuha.

Dalilnya sebagai berikut;

Dari Abdullah bin Al-Harits bahwa Ibnu Abbas tidak melaksanakan shalat dhuha, dia berkata lalu aku membawanya menemui Ummu Hani’, lalu kukatakan “Beritahukan kepadanya apa yang tidak engkau beritahukan kepadaku.” Lalu Ummu Hani’ berkata, “Rasulullah Saw. pernah masuk ke rumahku pada waktu pembebasan kota Makkah, lalu Beliau meminta untuk dibawakan air kemudian Beliau menuangkannya ke dalam mangkok besar kemudian Beliau meminta selembar kain lalu Beliau Saw. memasangnya sebagai tabir antara diriku dan Beliau Saw., selanjutnya Beliau mandi dan setelah itu Beliau Saw. menyiramkannya ke sudut rumah barulah Beliau mengerjakan shalat 8 rakaat yang saat itu adalah waktu dhuha. Berdiri, ruku’ dan sujud dan duduknya adalah sama yang saling berdekatan antara sebagian dengan sebagian yang lain.” Kemudian Abdullah bin Abbas ra.huma. keluar seraya berkata, “Aku pernah membaca di antara dua papan, aku tidak pernah mengenal shalat dhuha kecuali sekarang.”

Firman Allah Swt.

إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ

“Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama Dia (Daud As.) di waktu petang dan pagi” (QS. Shaad : 18)

Aku pernah bertanya, “Mana shalat Isyraq?.” Dan setelah itu berkata “Itulah shalat Isyraq.” (HR. Ath-Thabrani dalam tafsirnya, dalam Al-Mu’jamul Al-Kabir dari jalan Atha’ bin Abi Rabah dari Abdullah bin Abbas dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak-nya, hadits ini hasan lighairihi.

Dan juga telah disebutkan hadits-hadits sebagai penguat oleh Imam As-Suyithi rah. dalam kitab Ad-Darrul Mantsuur juga oleh Imam Abi Syaibah rah. dalam kitab Al-Mushannaf.

Dari Umamah ra. bercerita Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat subuh di masjid dengan berjamaah lalu dia tetap diam disana sampai ia mengerjakan shalat dhuha, maka baginya seperti pahala orang yang menunaikan ibadah hajji atau umrah (yang sempurna hajji dan umrahnya).” (HR. Ath-Thabrani)

Pendapat yang kedua, Shalat Isyraq adalah awal shalat dhuha.

Dalilnya adalah :

عن أس ، قال : قال رسول الله صلى عليه وسلم:”من صلى الفجر فى جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم ركعتين كانت له كأجر حجة وعمرة” قال رسول الله صلى عليه وسلم:”تامة تامة تامة.”

Dari Anas bin Malik ra. telah bersabda Rasulullah Saw., “Barangsiapa yang shalat fajar atau subuh berjamaah (dalam masjid) kemudian duduk dan berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari kemudian shalat dua rakaat maka sesungguhnya baginya mendapatkan pahala haji dan umrah.” Berkata Rawi, telah bersabda Rasulullah Saw. “Sempurna… sempurna… sempurna.” (HR. At-Tirmidzi No. 586, Hadits shahih, hadits ini juga dihasankan oleh Syaikh Al-Bani dalam Silsilah Ahaadits Ash-Shahihah No. 3.403, dan disebutkan juga dalam Misykatu Al-Mashobih No. 971 dan dalam Shahih Targhib No. 469)

عن أبي أمامة رضى عنه قال قال رسول الله صلى عليه وسلم :”من صلى صلاة الصبح في مسجد جماعة يثبت فيه حتى يصلي سبحة الضحى كان كلأجر حاج أو معتمرتاما حجته و عمرته.”

Dari Umamah ra. bercerita Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat subuh di masjid dengan berjamaah lalu dia tetap diam disana sampai ia mengerjakan shalat dhuha, maka baginya seperti pahala orang yang menunaikan ibadah hajji atau umrah (yang sempurna hajji dan umrahnya).” (HR. Ath-Thabrani No. 7.663, Hadits Hasan lighairihi disebutkan juga oleh Imam Al-Haitsami rah. dalam Az-Zawaid juga oleh Imam Ibnu ‘Asaakir dalam kitab Tarikh Damasq, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam Shahih Targhib No. 469.)

Dari keterangan kedua hadits ini maka jelaslah bahwa shalat isyraq itu adalah awal atau permulaan shalat dhuha.

Pendapat Ketiga, Shalat Isyraq berbeda dengan shalat dhuha.

Shalat Isyraq berbeda dengan shalat dhuha yaitu waktu yang sangat sebentar sebelum masuk waktu dhuha sekitar 15-20 menit setelah terbit matahari.

Dalilnya adalah hadits Anas ra. dan hadits Umamah ra. di atas serta hadits di bawah ini,

عن زيد بن أرقم رضى الله عنه أنه رأى قوما يصلون من الضحى فقال :أما لقد علموا أن اللصلاة في غير هذه الساعة أفضل,إن رسول الله صلى عليه وسلم قال : “صلاة الأوابين حين ترمض الفصال.”

Dari Zaid bin Arqam ra. bahwasanya beliau telah melihat suatu kaum yang sedang shalat dhuha (di awal-awal waktu sebelum matahari panas). Kemudian beliau mengatakan kepada mereka sesungguhnya telah mereka ketahui bahwasanya Nabi Saw. telah bersabda, “Shalat awwabin1 (yang paling afdhal) adalah saat anak unta kepanasan (ketika tersengat matahari yang mulai panas).” (HR. Muslim)

1 Nama lain dari shalat dhuha dan bukan shalat yang dilaksanakan antara maghrib dan isya’ sebagaimana ma’ruf di sebagian kaum muslimin dengan berdasarkan hujjah yang tidak shahih menurut para Muhaditsin.

Keterangan :

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa shalat dhuha yang paling afdhal adalah saat matahari mulai memanas sehingga menyebabkan anak unta kepanasan yang menyebabkan mereka bergerak-gerak kepanasan, dan waktu ini bukanlah waktu shalat Isyraq sebagaimana diterangkan dalam hadits di atas, walaupun sebagian Sahabat memahami bahwa isyraq adalah dhuha.

Kesimpulan :

Dari pendapat dan keterangan di atas penulis berpendapat bahwa semua pendapat kuat dan dapat dipertanggung jawabkan, yang berbeda hanya istilah namanya saja namun barangsiapa yang ingin mendapatkan pahala shalat isyraq harus mengetahui beberapa hal di bawah ini :

– Shalat isyraqthulu’ (terbit) karena pelaksanaannya dilakukan setelah matahari terbit atau shuruq.

– Hukumnya = Sunnah

– Caranya adalah setelah shalat subuh berjamaah di masjid duduk dan berdzikir, berdo’a, tadarus Al-Qur’an ataupun ta’lim hingga terbit matahari setelah satu tombak (kira-kira 15-20 menit setelah terbit matahari) kemudian shalat 2 rakaat. Pada shalat ini tidak ada do’a/bacaan/dzikir khusus.

– Bagi yang istiqamah melakukan shalat ini kemudian tiba-tiba mendapat udzur yang menghalanginya maka ia akan tetap mendapatkan pahala sebagaimana hari-hari sebelumnya. Sebagaimana hadits Rasulullah Saw., “Bagi seseorang yang sakit atau dalam perjalanan maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana yang dilakukan sebelumnya ketika dalam kondisi mukim dan sehat.” (HR. Bukhari No. 2.834)

– Bagi wanita yang terpenting adalah niat dan keinginannya untuk melaksanakan sunnah tersebut, jikalau Allah Swt. berikan taufiq Alhamdulillah dengan tidak meninggalkan kewajiban yang utama yaitu mengurus keperluan rumah tangganya, karena sebaik-baik shalat bagi wanita adalah di rumahnya dan Allah akan memberikan pahala sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang melakukannya di waktu isyraq maka ia akan mendapatkan pahala dhuha.

Wallahu a’lam bish-shawab… Semoga bermanfaat.

——————————————————————————————————

Abu Abdirrahman Al-Hajjamy
Anggrek Loka, GRBJ – 29 Safar 1435 H.

One thought on “SHALAT ISYRAQ”

  1. aslm. ustad saya ingin benar-benar bertanya yang jawabannya sesuai jumhur ulama empat madzhab dan para ulama yang bermanhaj salaf. bagaimanakah hukum memakan daging anjing?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s